Apakah
selama ini kita menghargai
orang yang mampu memberi isyarah (Kiasan / petunjuk) dengan
menyebut-nyebut bahwa dirinya dekat dengan Allah ? sesungguhnya orang
yang demikian itu bukanlah orang yang arif.
Orang
yang makrifat tidak akan menyebut-nyebut dirinya dekat dengan tuhan
dan merasa ibadahnya sudah sampai pada tingkatan yang tinggi.
Orang
yang sering kali berkata pada murid-muridnya atau kepada orang lain
tentang kedekatannya dengan tuhan, berarti lebih banyak bohongnya.
Hatinya telah tercemar dengan sifat-sifat buruk yang mencelakakan.
Sifat sombong dan ujub sudah begitu tebalsehingga yang berperan
adalah nafsunya. Dia ingin dipuji dan dianggap makrifat oleh manusia
sehingga cenderung untuk memberi kiasan-kiasan dan isyarah-isyarah
demikian.
Padahal
orang yang sudah benar-benar telah sampai pada tahapan makrifat, ia
merasa dirinya terserap kedalam dalam dzatnya, tanpa mengadakan
perbuatan-perbuatan d an sifat-sifatNya, ia merasa larut tetapi tetap
mengakui kehendakNya, kekuatanNya dan sifat-sifatNya, dan mengaku
dengan haqul yakin akan kekuasaan Allah dan meyakini pada selain
Allah adalah fana dan palsu.
Orang
demikian itu merasakan dan mengalami, serta hidup dengan cahaya
Allah, sehingga dapat menemukan kebenaran hakiki.










